Yang dikagumi terkadang tak mengerti, 
  yang dirindukan terkadang tak tahu, 
  yang dicintai terkadang tak merasa, 
  yang diinginkan terkadang tak menginginkan kita, 
  yang bersama terkadang tak sejalan, 
  yang tak disangka terkadang malah terjadi. 
  Namun yang pasti apa yang dikaruniakan Allah kepada kita 
  itulah yg terbaik. Berprasangka baik kepada Allah membuat hati 
  lebih tenang.
Fauzan Arif (via fauzan-arif)






aamiin
Amin,.,

"Jangan habiskan waktu memikirkan

 orang-orang yang tidak menaruh 

 namamu di hatinya."


  -Asma Nadia  

source; kuntawiaji

kuntawiaji:
Source: Path



Terkadang, Kawan,
Jarak antara minta nasehat dengan minta diomelin itu dekat sekali
Terkadang, Teman,
Nyari tempat curhat atau nyari tempat bertengkar juga tidak ada bedanya
Terkadang, Sahabat,
Jarak antara cari-cari perhatian dengan minta dimarahin juga beda tipis
Pun sama halnya
Diskusi dengan berdebat, kadang tiada bedanya
Minta tolong dengan maksa, sering serupa
Ngasih contoh dengan riya, mungkin entahlah
Bertanya dengan menguji, kadang sama saja
Sayang dengan posesif, mungkin tak ada beda
Dan lebih panjang lagi daftarnya
Aduhai, Kawan
Yang sungguh menarik di realita jagad raya ini
Ketika imut-imut dan menggemaskan menjadi trend,
Kalian harus tahu,
Jarak antara bermanja-manja dengan minta ditabok itu,
kadang hanya sebesar benang saja.
Demikian.
source;chelseavidia
aku juga merasa bersalah,., hanya aku kurang sabar atw aku tidak bisa menerima kau lebih memilih untuk tak menegorku dan menjaga hati mereka,.,
akan sama,. aku akan selalu meributkan hal itu,. dan akan sama kau akan punya banyak hal untuk menjelaskan alasannya,,

maaf telah mengganggu mu,.,teman ( yg hanya berbentuk kotak )
aku tak akan mengganggu mu dengan alasan apapun sekarang,.,
semoga sukses dengan bisnismu dan skripsi mu,.,

sekian.
“Tenang saja. Akan ada seseorang yang tidak akan kemana-mana sekalipun kamu dan dia terjebak dalam diam yang lama, sekaligus tetap tinggal mendengarkan dengan saksama, ketika kamu terlalu egois dan sibuk sendirian bercerita.”
source;chelseavidia
    “Kelamaan bagi orang tuamu kalau nungguin kamu sukses. Tapi kalau kamu belajar Al-Quran, pahalanya langsung mengalir ke mereka. InsyaAllah. Maka berjanjilah dalam hati bahwa kelak di akhirat kita akan memberikan mahkota cahaya untuk orang tua kita.”
— Ust. Yusuf Mansyur

  

 



 
                                               source ; anjardimara


who is you ?

Tulisan : Jangan Panggil Aku “Ikhwan”

Pada suatu hari, aku berdiskusi dengan diri sendiri. Berdiskusi dengan orang lain. Mengamati orang-orang, memperhatikannya dan menemukan satu hal yang orang lain rasakan (dan mungkin aku juga rasa) dan aku tertarik untuk menuliskannya. Hal ini sepertinya terjadi pada laki-laki dan perempuan dan aku menuliskannya dari sudut laki-laki. 
Aku adalah seorang laki-laki biasa yang apabila kamu bertemu. Bisa jadi tidak ada satupun yang membedakan antara aku dan laki-laki pada umumnya. Aku tidak suka dipanggil “ikhwan”, ketika makna kata ini bergeser. Ke arah untuk menunjukkan sesosok laki-laki yang paham agama, yang kemana-mana menunduk, yang hafal banyak ayat. Sesosok yang beragama taat.
Aku tidak suka dipanggil ikhwan, karena aku tidak seperti itu. Aku suka nongkrong di cafe-cafe, berkumpul dengan orang-orang “gaul”, aku berteman dari perempuan ber-rok mini hingga jilbab syari. Berteman dengan yang pegang quran hingga pegang botol minuman. Aku menjadi diriku yang aku percayai, dan selama Tuhan tidak membencinya.
Aku tidak suka dipanggil ikhwan meski aku suka datang ke kajian. Apa lantas karena aku sering ke masjid atau mengikuti kegiatan disana? Aku kadang masih bersalaman dengan perempuan, aku tahu itu salah dan aku merasa imanku memang lemah. Aku seringkali jelalatan di perjalanan. Aku tahu seharusnya aku menundukkan pandang tapi aku akui imanku sangat lemah.
Aku masih suka perempuan dan aku sedang belajar bagaimana cara menyikapi mereka. Maka jangan heran ketika kamu melihatku bercanda seolah-olah tidak mencerimankan ke-ikhwan-an seperti dalam pikiranmu.
Jangan panggil aku ikhwan (akhwat) hanya karena aku terlihat seperti itu, aku merasa panggilanmu memberatkanku. Jadi jangan heran ketika aku berbuat salah. Karena aku memang sering sekali berbuat salah. Jangan terlalu berangan lebih, terutama berangan yang baik-baik. Aku tidak sebaik itu, namun aku juga tidak seburuk apa yang kamu pikirkan.
Setidaknya aku ingin belajar, dan bagiku-aku percaya bahwa belajar agama tidak melulu di pengajian. Belajar tidak pula harus kepada orang baik. Aku suka berdiskusi, dan kepada siapapun aku suka bertukar pikiran.
Aku terus membaca agar pemahamanku terisi, agar aku tahu bagaimana menyikapi setiap orang. Agar aku tahu bahwa dunia disekelilingku beraneka ragam dan aku tidak mungkin menghindarinya sama sekali. Biarkanlah aku belajar dengan tenang. Aku membutuhkan banyak waktu untuk memahami satu hal dan jangan beratkan aku pada label yang kamu berikan.

dilihat dr sudut pandang dri sni,.,